8.1.3.2. Budidaya Merpati

Burung Merpati atau burung dara sejak dulu telah dimanfaatkan untuk menghasilkan daging, sport, lomba, pertunjukan dan bahkan untuk keperluan komunikasi (merpati pos). Untuk keperluan produksi daging wujud yang paling disukai adalah daging merpati yang masih muda (squab) atau yang lebih dikenal dengan sebutan piyek. Daging merpati berwarna gelap, empuk.

Siklus reproduksi merpati relatif pendek yaitu 35 hari sepasang merpati sudah mampu menghasilkan keturunan. Ini berarti dalam kurun waktu satu tahun sepasang merpati mampu menghasil kan keturunan 10 kali

A. Jenis-jenis Merpati

1. Merpati pacuan (Carrier Pigeon)

Merpati pacuan banyak diminati orang karena daya terbangnya kuat. Ciri-cirinya antara lain : sosok tubuh yang gagah tetapi terlihat ramping, bulu tipis dan kaku, kulit pada tonjolan hidungnya tebal dan besar. Merpati pacuan memiliki kemampuan terbang sejauh 200 km, tetapi kemampuan merpati jelajah modern bisa mencapai 1.500 km.

Merpati yang termasuk jenis ini antara lain : Belgian homer, tumbler, flying tipper, flight, merpati pos dan yang popular di Indonesia adalah merpati local yang dilatih untuk dijadikan merpati pacuan.

2. Merpati Hias

Merpati hias awalnya dikembangbiakan di berbagai negara Eropa dan Amerika dari merpati karang atau merpati liar. Pada akhirnya hasil pemuliaan tersebut melahirkan keturunan berbagai variasi merpati, baik bentuk, warna maupun perilaku. Hasil-hasil pemuliaan ini kemudian sebagian dikenal sebagai merpati hias.

Merpati yang termasuk jenis ini antara lain : Jacobin (lebih terkenal dengan sebutan merpati jambul), Satinette (paruh pendek), English Pouter (jangkung), Frillback, dan Florentine. Merpati hias yang popular di Indonesia adalah merpati kipas (Fantail).

3. Merpati Pedaging

Dikenal juga dengan sebutan merpati potong atau pedaging. Merpati yang termasuk jenis ini adalah Carneau dan Mondaine. Jenis merpati potong yang popular di Indonesia adalah Hummer King. Anakan Hummer King umur satu bulan bisa mencapai bobot 6-7 ons dan siap jual.

B. Kandang

Pada burung merpati yang hidupnya liar akan mencari tempat-tempat yang tinggi, terlindung dari angin, hujan serta hewan-hewan pemangsa (predator). Manusia telah membuat modifikasi namun tetap memperhatikan prinsip-prinsip tersebut dalam membuat kandang untuk merpati. Sistem Kandang merpati secara dikurung pada dasarnya ada tiga macam yaitu kandang umbaran, kandang koloni dan kandang baterai

1. Kandang Umbaran

Jenis kandang umbaran dan sistem pemeliharaan umbaran memang berkaitan, karena untuk jenis kandang umbaran tetap memerlukan sebuah rumah-rumahan yang biasanya berupa susunan-susunan atau pagupon.

Kandang jenis ini biasanya juga terletak dipohon sekitar rumah dan merpati-merpati tersebut akan dilepas bebas, namun didalam kandang jenis ini akan tersedia tempat untuk berteduh bahkan bersarang saat bertelur dan berikut kelebihan serta kekurangannya yaitu:

Kelebihan

  • Merpati menjadi lebih sehat dengan hidup yang lebih bebas.
  • Pemberian pakan yang lebih praktis bisa ditaburkan pada permukaan tanah, maka merpati akan menghampiri sendiri
  • Menjaga kebersihan kandang yang cukup mudah, karena para burung merpati akan terbang kesana ke kemari dan tidak akan terus menerus didalam kandang

Kekurangan

  • Burung merpati bebas terbang kemana pun yang akan mengakibatkan merpati tersebut memiliki sifat liar, sehingga membuatnya tidak mudah untuk dipegang.
  • Kadang pada saat masa bertelur tiba banyak burung merpati yang bertelur tidak pada tempatnya, karena diakibatkan kalah dalam rebutan pagupon untuk bertelur.
  • Penggunaan kandang merpati jenis ini memang cukup rawan dicuri orang, maka keamanan yang lemah membuat pemiliknya harus sering berjaga agar tidak dicuri.

2. Kandang Koloni

Dalam kandang koloni terdapat beberapa pasang merpati sehingga harus memiliki ukuran yang cukup besar dan semua aktivitas burung akan dilakukan didalam kandang yang membuat pemeliharaan lebih intensif.

Kandang merpati jenis ini memang akan sangat berbeda daripada kandang jenis lainnya, karena kadang koloni ini membuat burung tidak bisa terbang bebas dan terdapat sebuah pembatas berupa kayu atau kawat yang tentunya memiliki kekurangan serta kelebihan yaitu:

Kelebihan Kandang Koloni

  • membuat merpati tetap bergerak bebas tanpa membawa sifat liar, tentunya tidak akan seperti jenis kandang umbaran.
  • pemeliharaan yang lebih mudah, karena hanya membutuhkan satu atau dua wadah pakan saja dan tidak lupa untuk selalu menyediakan tempat minum untuk beberapa pasang merpati.
  • Masa birahi dari sang induk akan lebih meningkat dengan adanya pasangan lain didalam satu kandang, apalagi burung merpati adalah jenis burung yang memiliki sifat pada pasangannya.

Kekurangan Kandang Koloni

  • kemungkinan akan terjadinya pertarungan dalam rebutan sarang, maka kandang jenis akan lebih cocok penggunaannya untuk masa peremajaan.
  • Penularan penyakit pada merpati akan lebih mudah, sehingga untuk pencegahan nya dengan selalu memperhatikan kebersihan dan pengecekan kesehatan pada burung merpati.

3. Kandang Baterai

Kandang baterai biasanya disebut dengan kandang individual yang dikumpulkan disuatu tempat, karena didalam kandang jenis akan terdiri dari sepasang burung merpati dan biasanya dinding pada kandang jenis ini akan terbuat dari kawat.

Ukuran pada kandang merpati yang satu ini mungkin akan lebih kecil dari jenis kandang sebelumnya, selain itu kandang baterai untuk burung merpati ini tentunya memiliki kelebihan dan juga kekurangannya antara lain:

Kelebihan Kandang Baterai

  • Indukkan dikandang baterai ini akan lebih leluasa untuk berproduksi, sehingga tidak perlu untuk berebut sarang.
  • Kesehatan pada burung merpati akan lebih terjaga, karena pada satu kandang hanya berisi satu pasang yang mudah di antisipasi jika salah satunya terserang penyakit.

Kelemahan Kandang Baterai

  • Pembuatan kandang jenis ini akan memiliki biaya yang cukup besar daripada pembuatan kandang jenis lainnya, walaupun hanya untuk sepasang merpati saja.
  • Memiliki perawatan yang lebih rumit apalagi saat membersihkan kandang, karena harus dibersihkan satu persatu.
  • Burung merpati tidak akan bergerak leluasa yang disebabkan oleh kandang yang terlalu kecil, sehingga tidak jarang merpati akan mengalami stress.

C. Pakan

Masalah gizi untuk merpati hampir sama saja dengan jenis-jenis unggas lainnya. Satu perkecualian adalah merpati membutuhkan grit yang berfungsi untuk membantu  mencerna biji-bijian yang di makan. Grit merupakan makanan merpati yang dibuat dengan campuran bata merah, arang dan grit putih yang dihaluskan dengan komposisi 2:2:1.

Pakan merpati terdiri atas unsur-unsur ransum campuran antara biji-bijian (jagung, kedelai, kacang tanah dan gandum), mineral, grit dan air minum atau dalam bentuk pellet.

Pemberian pakan sebaiknya 2 kali dalam sehari pada jam yang hampir sama yaitu antara matahari terbit sampai jam 9 pagi serta antara jam 4 sore sampai matahari terbenam.

D. Reproduksi

1. Siklus reproduksi.

Perkawinan pertama hendaknya dilakukan pada umur 5-8 bulan dengan puncak produksi telur terjadi antara umur 12-18 bulan dan terus berlangsung sampai 2-3 tahun. Umur produktif yang masih dianggap menguntungkan yaitu tidak lebih dari 5-6 tahun.

Sifat berpasangan pada burung merpati sangat kuat dan selalu tetap sepanjang hidupnya, kecuali jika salah satu pasangannya mati atau dipisahkan secara terpaksa oleh peternak.

2.Perilaku kawin

Pejantan mulai dengan suatu kegiatan persiapan untuk kawin yaitu dengan menggembungkan temboloknya, bulu-bulu dimekarkan, sayap direbahkan serta memperlihatkan penampilan yang tenang. Bila seekor betina menerima pejantan itu maka pasangan itu mulailah bersatu untuk meneruskannya.

Segera setelah kawin, pejantan akan mencari bahan-bahan untuk membuat sarang di dalam petak kandangnya. Oleh karena itu peternak harus menyediakan kayu-kayuan kecil seperti batang lidi, jerami, tali bekas yang kecil, atau apa saja yang sifatnya bisa di rangkai oleh burung merpati menjadi sarang.

3. Masa bertelur

Setelah sarangnya selesai dipersiapkan atau mendekati akhir penyelesaian, maka merpati betina akan bertelur yang pertama. Telur yang kedua biasanya dikeluarkan dalam 24 jam berikutnya. Tiap kali masa bertelur, dapat diharapkan 2 butir telur atau dua ekor anak bisa dihasilkan.

Pengeraman akan segera dimulai dan dilakukan oleh pasangan itu, baik induk jantan atau betina. Namun induk betina lebih banyak melakukan kegiatan pengeraman, dan pejantan menggantikannya dalam waktu singkat yaitu dari pagi sampai siang.

Lama masa pengeraman berkisar 18-22 hari. Telur yang pertama akan menetas dalam 17-18 hari, diikuti oleh telur yang ke dua 48 jam berikutnya.

4. Pemeliharaan anak merpati (piyek).

Bagian tersulit dalam pemeliharaan burung merpati adalah menangani piyik-piyik. Tiga hari pertama setelah menetas, piyik hanya mendapat asupan susu tembolok dari induk jantan dan betina. Setelah itu, kedua induk bergiliran memberi makan anaknya dengan meloloh.

Setelah umur 10 hari, anak merpati perlu di amati lagi. Mata anak merpati akan mulai terbuka dan bulu mulai tumbuh. Pada tahap ini anak merpati mulai memanfaatkan biji-bijian bersamaan dengan susu merpati (pakan loloh dari tembolok) dari induknya.

Secara alami, masa meloloh ini akan berlangsung 6-7 minggu, akan tetapi kita bisa mempercepatnya mulai umur 15 hari sampai 1 bulan agar induk cepat bertelur lagi.

Pada umur 1 bulan sampai masa panen (2 bulan), merpati sudah bisa makan sendiri. Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari. Usahakan pakan habis dalam waktu 30-60 menit, agar tak menimbulkan bau busuk yang bisa mengundang kuman penyakit (bakteri, virus, jamur, dll).

Pakan merpati piyek bisa dibuat dari bahan jagung kuning (50 %), gandum (34 %), jewawut (9 %), kacang tanah (5 %) dan beras (2 %). Bahan-bahan itu diramu dalam bentuk butiran pecah. Khusus untuk piyik, bahan pakan mesti dilembutkan dengan air matang, sehingga menjadi bubur.

Referensi:
https://www.idntimes.com/
https://hardianimalscience.wordpress.com//
https://www.fimela.com/
https://ahlihewan.com/
https://www.perkututnusantara.com/

SOAL LATIHAN