8.2.3.3. Budidaya Cacing Tanah

Cacing mungkin merupakan hewan yang dinilai menjijikan oleh sebagian orang. Namun, siapa sangka ternyata cacing tanah dapat dibudidayakan dan tentunya memiliki nilai jual serta memberikan keuntungan berlimpah.

A. Manfaat Cacing Tanah.

Sebagai dekomposer atau pengurai. Dekomposer ini merupakan organisme yang memiliki fungsi untuk menguraikan bahan organik dari organisme mati. Dekomposer dapat membantu siklus nutrisi kembali lagi ke ekosistem lainnya.

Sebagai pakan ternak. Cacing tanah memiliki gizi yang tinggi. Apabila digunakan untuk pakan ternak, cacing dapat diberikan pada ternak seperti unggas.

Sebagai Obat. Cacing tanah juga bermanfaat sebagai obat untuk mengatasi demam serta typhus untuk manusia. Cacing juga mulai digunakan untuk bahan-bahan kosmetik karena dipercaya ampuh untuk melembabkan serta meremajakan kulit.

Mempunyai nilai ekonomi tinggi. Manfaat serta kandungan pada cacing tanah membuat harganya menjadi cukup tinggi untuk dijual di pasaran yaitu berkisar Rp75.000 hingga Rp85.000 per kilogramnya.

B. Cara Budidaya Cacing Tanah.

Tahapan-tahapan tersebut adalah persiapan wadah budidaya atau media ternak cacing tanah, pemilihan bibit, menebarkan bibit cacing, mengelola pakan untuk cacing, memberi pakan untuk cacing serta penggantian media serta langkah terakhir yaitu panen yang secara lengkap dibahas pada buku Budi Daya Cacing Tanah Super Di Lahan Sempit.

1. Menyiapkan Media

Untuk media perkembangbiakan cacing tanah, kita dapat menggunakan kotak bekas yang telah diisi dengan tanah lembab. Pastikan kotak tersebut berukuran 90 x 50 x 36 cm.

Tanah yang digunakan sebagai media ternak cacing adalah tanah humus. Karena cacing membutuhkan tanah yang memiliki banyak nutrisi. Apabila tanah kekurangan nutrisi, maka kita dapat menambahkan pupuk kompos maupun pupuk kendang secukupnya

Kemudian, letakan wadah berisi tanah tersebut di tempat yang tak dekat dengan paparan sinar matahari secara langsung agar media tanah tidak rusak serta kering, atau dapat meletakan media ternak cacing tanah di tempat teduh.

Ukur pH tanah dan memastikan bahwa pH tanah normal. pH yang sesuai untuk mengembangbiakan cacing adalah 5,5 hingga 7,5. Setelah memastikan pH tanah maka Grameds dapat langsung menyebarkan bibit cacing pada wadah ternak.

2. Menyiapkan Bibit Berkualitas

Sebenarnya ada banyak jenis cacing tanah yang dapat ditemukan,seperti Megascolicidae, Lumbricidae, Genus Lumbricus, Eisenia, Pheretima, Perionyx, Diplocardia serta Lidrillus. Namun umumnya hanya ada tiga jenis cacing tanah yang dipilih oleh pembudidaya cacing tanah di Indonesia. Ketiga jenis tersebut adalah Pheretima, Perionyx, serta Lumbricus.

Ketiga jenis cacing tanah populer di Indonesia tersebut dikenal karena lebih menyukai media dari bahan organik dan berasal dari sampah dapur maupun pupuk kandang. Oleh karena itu, pembudidaya merasa bahwa lebih mudah untuk menyediakan media sebagai tempat budidaya dari ketiga jenis cacing tanah tersebut.

Umumnya, agar tidak terlalu padat, dalam satu kotak kita dapat menaruh bibit cacing sebanyak 50 hingga 100 bibit cacing. Jumlah perkiraan penyebaran bibit cacing tersebut sangat cocok untuk pemula karena tidak terlalu banyak.

Melakukan pemeriksaan rutin setiap tiga jam sekali pada hari pertama perkembangbiakan. Perhatikan gerak-gerik cacing, apabila ada cacing yang keluar dari tanah dan ingin pergi dari wadah ternak maka kemungkinan pH tanah tidak sesuai atau kondisi tanah tidak membuat cacing merasa nyaman. Cek pula suhu tanah dan pastikan tanah tetap lembab.

3. Memberi Pakan Cacing Tanah

Untuk pakan cacing tanah, yang paling disarankan adalah memberi kotoran hewan ternak seperti kotoran sapi dan kerbau. Selain itu dapat juga memberikan pakan berupa sayuran kering atau kompos dari bahan-bahan organik. Ampas tahu, pupuk kandang, limbah pertanian, tetes, probiotik juga merupakan pakan cacing yang dapat membuat cacing cepat gemuk dan sehat.

4. Mengganti Media Tanah

Pembudidaya cacing tanah perlu rutin mengganti media tanah sebulan sekali. Hal ini dikarenakan cacing berkembang dengan pesat, sehingga mengganti media tanah merupakan hal yang penting.

Caranya adalah dengan memindahkan serta mengeluarkan semua cacing yang berada dalam media, kemudian masukan tanah baru yang subur lalu pindahkan kembali cacing tanah ke dalam media yang telah siap usai proses penggantian tanah.

5. Mengendalikan Hama serta Penyakit

Hama yang umumnya menyerang cacing adalah sejenis serangga, seperti semut. Semut dan serangga lain akan memakan cacing tanah dan menyebabkan kegagalan panen.

Untuk menghindari serangan semut dengan memberikan kapur anti serangga pada wadah untuk mengembangbiakan cacing tanah.

6. Memanen Cacing Tanah

Usai melakukan perawatan dan pemeliharaan ,cacing dapat dipanen setelah memasuki usia tiga hingga enam bulan.

Caranya adalah dengan mendekatkan lampu pada wadah ternak yang siap panen ke lampu, hal ini dikarenakan cacing takut pada cahaya. Sehingga ketika didekatkan pada lampu, cacing akan keluar dari tempat tinggalnya dengan sendirinya dan bisa langsung dipanen.

Referensi
https://www.gramedia.com/best-seller/cara-budidaya-cacing-tanah/
https://www.99.co/blog/indonesia/langkah-budidaya-cacing-tanah/
https://rimbakita.com/ternak-cacing/